Sabtu, 08 September 2012

Senyum Mak Ina


Senyum Mak Ina
                                                                            Oleh Afrizal
     Mak Ina, begitulah orang-orang memanggilnya. Orangnya pendiam; tak banyak cakap. Lebih banyak mengandalkan gerak atau gesture tubuh kalau bicara. Gerak tangan, kepala, mata, atau malah lebih banyak tersenyum untuk merespon lawan bicaranya.  Mengatakan iya dengan senyum, tidak dengan senyum. Apa-apa persoalan dihadapi dengan senyum. Kami anak-anaknya tentu saja sudah sangat terbiasa dengan hal ini. Kami fasih menerjemahkannya. Senyum adalah bahasa Mak, bahasa kalbu Mak. Kalbu seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya.
     Selain cara berkomunikasi, ada sisi lain yang menonjol dari Mak, yakni perhatiannya kepada anak-anak. Apa saja tentang anaknya, tidak secuil pun terlewatkan oleh beliau. Termasuk urusan jodoh, misalnya. Dari sekian anaknya Mak, aku sangat terlambat memikirkan hal itu.  Mak sangat meri-saukannya. Sehingga suatu hari dengan gaya khasnya Mak  menyindirku, kapan Mak bisa bertemu dengan perempuan yang pernah kauceritakan itu? Aku kaget. Ternyata Mak masih ingat tentang perempuan yang tanpa sengaja kuceritakan kepada beliau beberapa waktu yang lalu. Perempuan yang mampu membuat detak jantungku berdebar lebih kencang. Aku hanya tersenyum menang-gapinya. Sehingga suatu hari aku membawa seorang gadis yang matanya paling hidup di antara gadis-gadis yang kukenal. Di danau keteduhan matanya tak kita temukan riak. Kita bisa menyelam dan be-renang di matanya. Di mana kautemukan gadis itu, begitu kira-kira bahasa kalbu yang terpancar dari mata Mak yang sedikit coklat. Aku tersenyum malu. Gadis yang kubawa itu adalah Sri  atau Sri Sumirah lengkapnya, yang kelak menjadi ibu dari anak-anakku. Seperti biasa Mak tidak akan berko-mentar.  Kita cukup paham bahwa mak bahagia. Kebahagiaan terpancar dari senyum yang tak pernah lepas dari bibir Mak. 
     Perjumpaan kami malam ini membuat segala rinduku buyar. Masih sesungging senyumannya yang khas, beliau memaknai aku anaknya dengan sifat-sifat keibuannya. Beliau senang. Gurat tua di wajah-nya memperkatakan begitu.
     Tak sepatah katapun memang keluar dari bibir Mak. Aku hati-hati menjaga perasaan Mak. Aku tidak ingin kualitas pertemuan ini menjadi rusak gara-gara tidak bisa menahan emosi dan perasaan yang tidak begitu mendasar. Benar, Mak itu sehat, Mak itu tidak sakit. Penyakit tanpa indo)* yang pernah menyerang beliau tidak terlihat sama sekali.
     Panyakit tanpa indo memang sangat umum terjadi di daerah kami. Penyakit ini umumnya menyerang orang-orang yang sudah berusia paruh baya. Masyarakat kami menyebutnya sebagai penyakit yang aneh dan misterius. Datang tiba-tiba dan merenggut nyawa. Sebagian masyarakat mengatakan penyakit itu adalah sebuah kutukan.
     Aku memang sangat mengkhawatirkan keadaan Mak. Syukurlah Mak sepertinya tidak apa-apa. Buktinya malam ini Mak terlihat segar dengan daster coklat kembang-kembang putih yang dikena-kannya. Mak itu punya karakter yang kuat, di situlah letak kecantikan beliau. Sebagaimana ibu-ibu    di kampung kami, sulitnya kehidupan telah mengasah Mak semenjak kecil. Terbiasa sendiri, terbiasa mandiri. Makanya kalau pun benar Mak masih sakit beliau tidak akan pernah memperlihatkannya kepada orang lain, apalagi kepada anak-anaknya. Aku masih ingat, mungkin masih sepuluh tahunan-lah usiaku ketika itu. Rata-rata kami sekeluarga hanya bisa makan satu kali sehari. Perut kami hari-harinya kosong keroncongan. Untuk mengisi perut yang kosong kami disuruh minum yang banyak. Atau, disuruh mencari pisang, singkong, atau buah apa saja yang ada di kebun di belakang rumah. Makan buah, singkong atau pisang juga membuat perut tetap kencang seperti anak-anak lain yang kenyang oleh nasi. Kami tidak cengeng.  Alhamdulillah kita masih bisa makan, kata Mak, walaupun cuma sekali sehari.  Hal seperti itu sangat sering dialami oleh mak sewaktu masih kecil. Kepada anak-anaknya mak sering menceritakan tentang kepahitan hidupnya. Tidak hanya keluarga Mak, hampir rata-rata di kampung kami kehidupannya sulit. Fisik boleh keropos, kata Mak, tapi kita harus punya batin yang kuat.
     “Kasihan kalian. Mak bertekad tidak ingin menyengsarakan kalian. Lihatlah ayah kalian. Kaki sudah menjadi kepala, kepala sudah menjadi kaki demi sesuap nasi. Ayahmu terlihat lebih tua daripada usianya yang sesungguhnya. Tapi kalian tidak usah khawatir. Cukuplah jadi anak-anak yang baik, kami sudah senang.
     Mak benar. Ayah adalah seorang pekerja keras. Bahkan demi kami ayah tak hirau akan kesehatan-nya sendiri.  Kami anak-anaknya bertekad untuk maju. Bagaimana pun kehidupan harus diubah ke arah yang lebih baik. Kami belajar dengan giat. Memang sayang, di saat aku belum menyelesaikan pendidikanku, ayah dipanggil menghadap Yang Kuasa. Mak tinggal sendiri. Jangankan untuk menang-gung hidup kami sekeluarga, untuk menghidupi dirinya sendiri saja jujur rasanya mak tidak sanggup. Begitulah Mak. Dengan tulang-tulangnya yang lemah mak mengais-ngais rezeki. Sehingga tubuhnya yang lemah itu makin tergerus. Penyakit tanpa indo pun datang. Habislah semua. Beruntung di saat yang sama anak tertua beliau, uda Yon, mendapat pekerjaan yang layak. Beban Mak sedikit berku-rang.
    Mak tersenyum. Kemudian melepaskan genggaman tangannya pada tangan kananku. Menepuk pundakku berkali-kali, dan berlalu menuju kamar tengah. Langkah-langkahnya yang berat membuat miris hati memandang. Tak dipungkiri kerentaan mak sudah lama datang. Kadang apa yang kita ucap-kan tak berbalas sewajarnya. Daya kerja otak dan daya ingat beliau sudah sangat rendah. Jangankan nama, saat sekarang beliau sudah susah membedakan aku anaknya yang ke berapa. Pelan-pelan, satu-satu, Tuhan sudah mulai mengambilnya. Menurut uni Nela, hal ini terjadi setelah tanpa indo itu datang untuk ketiga kalinya. Seluruh syaraf beliau sebelah kiri melemah fungsinya. Mulai dari kepala sampai ujung kaki. Sudah pasti sangat mengganggu kerja jantung yang notabene berada pada rongga dada sebelah kiri. Aku takut kalau alat yang paling vital pada tubuh manusia itu berhenti mendadak. Dan, kematian itu sudah sulit untuk dicegah. Terus terang aku belum siap menerima kenyataan itu. Aku belum melakukan apa-apa untuk mak.
    Mak mucul kembali. Kemudian menggamit tangan kananku dan mengajakku melangkah. Aku ikuti saja apa maunya mak. Sri, istriku, yang berdiri di sampingku hanya bengong dan melongo saja meli-hat adegan itu. Aku pikir untuk apa, rupanya mak ingin mengajak aku untuk mengitari luar dan dalam rumah. Tanpa kata beliau menunjuk bagian-bagian rumah yang sudah mulai merapuh. Mulai dari din-ding rumah. Meranti itu sebagian sudah bisa dilubangi dengan jari telunjuk. Padahal itu adalah kayu  kualitas terbaik saat rumah itu dibangun oleh ayah. Atap rumah juga begitu. Di bagian tertentu kalau kita melihat ke atas dari dalam rumah, kerlap-kerlip bintang di langit pun bisa kita nikmati melalui bolongan atap rumbio yang sudah tua itu. Bahkan serpihan atap-atap lapuk itu sebagian berceceran pada lantai rumah.
     Satu per satu kamar kami datangi. Kami lama terhenti pada kamar belakang. Di sana terdapat dipan sederhana. Tikar pandan masih tergelar di atasnya. Memoriku segera mengingatkan. Bukankah di kamar ini aku biasa merebahkan diri beristirahat kala gelap malam itu datang? Bahkan di kamar itulah darah tertumpah saat kehadiranku keluar dari rahim Mak untuk menghirup udara kehidupan ini.
     Aku mencoba memasuki kamar itu lebih jauh. Mak membiarkanku mengenali benda-benda yang terdapat di sana. Luar biasa! Lemari kecil itu, meja belajar, radio butut kesayanganku, masih ada. Tidak ada yang hilang atau berpindah tempat. Mak tersenyum ke arahku. Cuma karena sudah lama tidak ditempati, debu sudah menjarah di mana-mana. Dalam hati aku berucap, tenang saja Mak, aku janji rumah tua peninggalan ayah ini akan aku renovasi tanpa harus membuang kenangan atau memori sejarah keluarga besar kita. Sekali lagi mak tersenyum. Seakan-akan mak memang telah membaca suara batinku.
     Aku terhenti agak lama pada radio butut yang ada di atas meja belajar. Sungguh konyol ketika itu. Gara-gara radio jelek ini aku sempat punya cita-cita untuk menjadi seorang penyiar, pembaca berita. Akan kubuktikan kepada orang-orang kampung bahwa aku juga bisa terkenal lewat suaraku yang ngebas. Sayang cita-cita itu buyar di saat kuncup-kuncup usia remajaku mulai mekar. Aku didoktrin menjadi tentara oleh kakak tertuaku uda Yon. Tapi itu juga akhirnya kandas. Sudah berapa lama radio kesayangan itu tidak aku sentuh, aku sendiri sudah lupa. Radio itu sudah rusak dibanting oleh keme-nakanku, anak uni Nela. Inilah kali pertamanya lagi kusentuh. Debunya menempel sudah layaknya sebagai daki yang lengket pada kulit manusia. Kusentuh dan kuelus radio itu dengan lembut, seperti aku memperlakukan benda yang sangat istimewa dalam hidupku.
*  *  *
     “Khuk, huuk khuk ... “
     Suara itu membuatku kaget. Mencari-cari sesuatu kiri-kanan. Tidak ada Mak, hanya Sri. Hanya Sri! Itu suara batuk istriku? Tidak jauh dari tidurku, perempuan itu dengan berat menahan kantuknya. Lihatlah matanya sudah mulai celong. Danau di matanya kemerah-merahan.
     “Kamu belum tidur?”
     Sri menggeleng lemah. Wajahnya kusam dan pucat. Jerawat sudah mulai bermunculan di sana sini pada wajahnya. Tatapan matanya agak redup.
     Sampai kapan kita harus seperti ini? Larut dengan kesedihan yang panjang.” Sudah tidak ter-hitung kalimat-kalimat seperti itu terlontar dari bibirnya belakangan ini. “ Masa berkabung itu sudah harus diakhiri,” lanjutnya.  “Lihatlah anak-anak kita. Kau telah menyita semua waktu dan perhatianku.  Mereka terbiar kini!”
     Perempuan itu menatapku dengan kekhawatiran yang dalam. Danau di matanya yang biasanya tenang kini beriak. Gelombang-gelombangnya menghempas tajam ke pinggir danau dan berbalik arah ketika menghantam bebatuan. Biru meneduhkan kini berganti dengan gersang. Lama aku larut dalam mata itu. Tidak ada lagi bayangan Mak di sana. Biasanya di kala rindu, aku bisa menangkap sebias senyuman Mak di mata itu.
     Da,” ia mengguncang-guncang bahuku.
    “Mak di mana...
    Berhentilah berhalusinasi. Sesungguhnya Mak kan sudah di sana. Lebih abadi dibanding alam fana yang kita tempati sekarang!”
     Tapi, Sri.”
    Sri menatapku heran, tapi kemudian mencoba merangkulku. Tubuhku didekapnya erat. Lama. Sampai detak-detak jantungnya menggetarkan dadaku. Air danau di matanya meleleh bagai lahar panas gunung Marapi menelusuri kali yang mengalir di kakinya. Hangatnya sampai terasa di pu-nggungku. Perempuan ini menangis. Dia menangis!  Pelukan yang seakan tidak mau dia lepas.
     “Da,  aku bawa anak-anak.” Masih dalam dekapannya.
     “Maksudmu?”
     “Kami akan ke rumah ibu.” Bulir-bulir air menderas dari bola matanya.
     “Sri ... .” Itukah makna tangisnya? Sisanya mulutku tercekat. Aku berteriak, namun suara tidak pernah muncul dari mulutku. Air mataku meleleh.
     Sepagi itu dengan bungkusan kain seadanya, Sri meninggalkan rumah dengan membawa Millien dan Cinta menuju arah utara. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena tiba-tiba saja semua anggota badanku berasa menjadi kaku: bibirku kaku, lidahku kaku, tanganku kaku, kakiku kaku. Aku benar-benar tidak bisa melakukan sesuatu untuk mencegah kepergian istri dan anak-anakku. Sekelebat kilatan mata Millien dan Cinta memandang tak mengerti ke arahku. Selanjutnya, mereka benar-benar meninggalkanku  di pagi dingin yang membekukan ini.
   
                                                                                                          Ujung Padang-Kambang , November, 2010          
)* penyakit stroke
     


Senyum Mak Ina


Senyum Mak Ina
                                                                            Oleh Afrizal
     Mak Ina, begitulah orang-orang memanggilnya. Orangnya pendiam; tak banyak cakap. Lebih banyak mengandalkan gerak atau gesture tubuh kalau bicara. Gerak tangan, kepala, mata, atau malah lebih banyak tersenyum untuk merespon lawan bicaranya.  Mengatakan iya dengan senyum, tidak dengan senyum. Apa-apa persoalan dihadapi dengan senyum. Kami anak-anaknya tentu saja sudah sangat terbiasa dengan hal ini. Kami fasih menerjemahkannya. Senyum adalah bahasa Mak, bahasa kalbu Mak. Kalbu seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya.
     Selain cara berkomunikasi, ada sisi lain yang menonjol dari Mak, yakni perhatiannya kepada anak-anak. Apa saja tentang anaknya, tidak secuil pun terlewatkan oleh beliau. Termasuk urusan jodoh, misalnya. Dari sekian anaknya Mak, aku sangat terlambat memikirkan hal itu.  Mak sangat meri-saukannya. Sehingga suatu hari dengan gaya khasnya Mak  menyindirku, kapan Mak bisa bertemu dengan perempuan yang pernah kauceritakan itu? Aku kaget. Ternyata Mak masih ingat tentang perempuan yang tanpa sengaja kuceritakan kepada beliau beberapa waktu yang lalu. Perempuan yang mampu membuat detak jantungku berdebar lebih kencang. Aku hanya tersenyum menang-gapinya. Sehingga suatu hari aku membawa seorang gadis yang matanya paling hidup di antara gadis-gadis yang kukenal. Di danau keteduhan matanya tak kita temukan riak. Kita bisa menyelam dan be-renang di matanya. Di mana kautemukan gadis itu, begitu kira-kira bahasa kalbu yang terpancar dari mata Mak yang sedikit coklat. Aku tersenyum malu. Gadis yang kubawa itu adalah Sri  atau Sri Sumirah lengkapnya, yang kelak menjadi ibu dari anak-anakku. Seperti biasa Mak tidak akan berko-mentar.  Kita cukup paham bahwa mak bahagia. Kebahagiaan terpancar dari senyum yang tak pernah lepas dari bibir Mak. 
     Perjumpaan kami malam ini membuat segala rinduku buyar. Masih sesungging senyumannya yang khas, beliau memaknai aku anaknya dengan sifat-sifat keibuannya. Beliau senang. Gurat tua di wajah-nya memperkatakan begitu.
     Tak sepatah katapun memang keluar dari bibir Mak. Aku hati-hati menjaga perasaan Mak. Aku tidak ingin kualitas pertemuan ini menjadi rusak gara-gara tidak bisa menahan emosi dan perasaan yang tidak begitu mendasar. Benar, Mak itu sehat, Mak itu tidak sakit. Penyakit tanpa indo)* yang pernah menyerang beliau tidak terlihat sama sekali.
     Panyakit tanpa indo memang sangat umum terjadi di daerah kami. Penyakit ini umumnya menyerang orang-orang yang sudah berusia paruh baya. Masyarakat kami menyebutnya sebagai penyakit yang aneh dan misterius. Datang tiba-tiba dan merenggut nyawa. Sebagian masyarakat mengatakan penyakit itu adalah sebuah kutukan.
     Aku memang sangat mengkhawatirkan keadaan Mak. Syukurlah Mak sepertinya tidak apa-apa. Buktinya malam ini Mak terlihat segar dengan daster coklat kembang-kembang putih yang dikena-kannya. Mak itu punya karakter yang kuat, di situlah letak kecantikan beliau. Sebagaimana ibu-ibu    di kampung kami, sulitnya kehidupan telah mengasah Mak semenjak kecil. Terbiasa sendiri, terbiasa mandiri. Makanya kalau pun benar Mak masih sakit beliau tidak akan pernah memperlihatkannya kepada orang lain, apalagi kepada anak-anaknya. Aku masih ingat, mungkin masih sepuluh tahunan-lah usiaku ketika itu. Rata-rata kami sekeluarga hanya bisa makan satu kali sehari. Perut kami hari-harinya kosong keroncongan. Untuk mengisi perut yang kosong kami disuruh minum yang banyak. Atau, disuruh mencari pisang, singkong, atau buah apa saja yang ada di kebun di belakang rumah. Makan buah, singkong atau pisang juga membuat perut tetap kencang seperti anak-anak lain yang kenyang oleh nasi. Kami tidak cengeng.  Alhamdulillah kita masih bisa makan, kata Mak, walaupun cuma sekali sehari.  Hal seperti itu sangat sering dialami oleh mak sewaktu masih kecil. Kepada anak-anaknya mak sering menceritakan tentang kepahitan hidupnya. Tidak hanya keluarga Mak, hampir rata-rata di kampung kami kehidupannya sulit. Fisik boleh keropos, kata Mak, tapi kita harus punya batin yang kuat.
     “Kasihan kalian. Mak bertekad tidak ingin menyengsarakan kalian. Lihatlah ayah kalian. Kaki sudah menjadi kepala, kepala sudah menjadi kaki demi sesuap nasi. Ayahmu terlihat lebih tua daripada usianya yang sesungguhnya. Tapi kalian tidak usah khawatir. Cukuplah jadi anak-anak yang baik, kami sudah senang.
     Mak benar. Ayah adalah seorang pekerja keras. Bahkan demi kami ayah tak hirau akan kesehatan-nya sendiri.  Kami anak-anaknya bertekad untuk maju. Bagaimana pun kehidupan harus diubah ke arah yang lebih baik. Kami belajar dengan giat. Memang sayang, di saat aku belum menyelesaikan pendidikanku, ayah dipanggil menghadap Yang Kuasa. Mak tinggal sendiri. Jangankan untuk menang-gung hidup kami sekeluarga, untuk menghidupi dirinya sendiri saja jujur rasanya mak tidak sanggup. Begitulah Mak. Dengan tulang-tulangnya yang lemah mak mengais-ngais rezeki. Sehingga tubuhnya yang lemah itu makin tergerus. Penyakit tanpa indo pun datang. Habislah semua. Beruntung di saat yang sama anak tertua beliau, uda Yon, mendapat pekerjaan yang layak. Beban Mak sedikit berku-rang.
    Mak tersenyum. Kemudian melepaskan genggaman tangannya pada tangan kananku. Menepuk pundakku berkali-kali, dan berlalu menuju kamar tengah. Langkah-langkahnya yang berat membuat miris hati memandang. Tak dipungkiri kerentaan mak sudah lama datang. Kadang apa yang kita ucap-kan tak berbalas sewajarnya. Daya kerja otak dan daya ingat beliau sudah sangat rendah. Jangankan nama, saat sekarang beliau sudah susah membedakan aku anaknya yang ke berapa. Pelan-pelan, satu-satu, Tuhan sudah mulai mengambilnya. Menurut uni Nela, hal ini terjadi setelah tanpa indo itu datang untuk ketiga kalinya. Seluruh syaraf beliau sebelah kiri melemah fungsinya. Mulai dari kepala sampai ujung kaki. Sudah pasti sangat mengganggu kerja jantung yang notabene berada pada rongga dada sebelah kiri. Aku takut kalau alat yang paling vital pada tubuh manusia itu berhenti mendadak. Dan, kematian itu sudah sulit untuk dicegah. Terus terang aku belum siap menerima kenyataan itu. Aku belum melakukan apa-apa untuk mak.
    Mak mucul kembali. Kemudian menggamit tangan kananku dan mengajakku melangkah. Aku ikuti saja apa maunya mak. Sri, istriku, yang berdiri di sampingku hanya bengong dan melongo saja meli-hat adegan itu. Aku pikir untuk apa, rupanya mak ingin mengajak aku untuk mengitari luar dan dalam rumah. Tanpa kata beliau menunjuk bagian-bagian rumah yang sudah mulai merapuh. Mulai dari din-ding rumah. Meranti itu sebagian sudah bisa dilubangi dengan jari telunjuk. Padahal itu adalah kayu  kualitas terbaik saat rumah itu dibangun oleh ayah. Atap rumah juga begitu. Di bagian tertentu kalau kita melihat ke atas dari dalam rumah, kerlap-kerlip bintang di langit pun bisa kita nikmati melalui bolongan atap rumbio yang sudah tua itu. Bahkan serpihan atap-atap lapuk itu sebagian berceceran pada lantai rumah.
     Satu per satu kamar kami datangi. Kami lama terhenti pada kamar belakang. Di sana terdapat dipan sederhana. Tikar pandan masih tergelar di atasnya. Memoriku segera mengingatkan. Bukankah di kamar ini aku biasa merebahkan diri beristirahat kala gelap malam itu datang? Bahkan di kamar itulah darah tertumpah saat kehadiranku keluar dari rahim Mak untuk menghirup udara kehidupan ini.
     Aku mencoba memasuki kamar itu lebih jauh. Mak membiarkanku mengenali benda-benda yang terdapat di sana. Luar biasa! Lemari kecil itu, meja belajar, radio butut kesayanganku, masih ada. Tidak ada yang hilang atau berpindah tempat. Mak tersenyum ke arahku. Cuma karena sudah lama tidak ditempati, debu sudah menjarah di mana-mana. Dalam hati aku berucap, tenang saja Mak, aku janji rumah tua peninggalan ayah ini akan aku renovasi tanpa harus membuang kenangan atau memori sejarah keluarga besar kita. Sekali lagi mak tersenyum. Seakan-akan mak memang telah membaca suara batinku.
     Aku terhenti agak lama pada radio butut yang ada di atas meja belajar. Sungguh konyol ketika itu. Gara-gara radio jelek ini aku sempat punya cita-cita untuk menjadi seorang penyiar, pembaca berita. Akan kubuktikan kepada orang-orang kampung bahwa aku juga bisa terkenal lewat suaraku yang ngebas. Sayang cita-cita itu buyar di saat kuncup-kuncup usia remajaku mulai mekar. Aku didoktrin menjadi tentara oleh kakak tertuaku uda Yon. Tapi itu juga akhirnya kandas. Sudah berapa lama radio kesayangan itu tidak aku sentuh, aku sendiri sudah lupa. Radio itu sudah rusak dibanting oleh keme-nakanku, anak uni Nela. Inilah kali pertamanya lagi kusentuh. Debunya menempel sudah layaknya sebagai daki yang lengket pada kulit manusia. Kusentuh dan kuelus radio itu dengan lembut, seperti aku memperlakukan benda yang sangat istimewa dalam hidupku.
*  *  *
     “Khuk, huuk khuk ... “
     Suara itu membuatku kaget. Mencari-cari sesuatu kiri-kanan. Tidak ada Mak, hanya Sri. Hanya Sri! Itu suara batuk istriku? Tidak jauh dari tidurku, perempuan itu dengan berat menahan kantuknya. Lihatlah matanya sudah mulai celong. Danau di matanya kemerah-merahan.
     “Kamu belum tidur?”
     Sri menggeleng lemah. Wajahnya kusam dan pucat. Jerawat sudah mulai bermunculan di sana sini pada wajahnya. Tatapan matanya agak redup.
     Sampai kapan kita harus seperti ini? Larut dengan kesedihan yang panjang.” Sudah tidak ter-hitung kalimat-kalimat seperti itu terlontar dari bibirnya belakangan ini. “ Masa berkabung itu sudah harus diakhiri,” lanjutnya.  “Lihatlah anak-anak kita. Kau telah menyita semua waktu dan perhatianku.  Mereka terbiar kini!”
     Perempuan itu menatapku dengan kekhawatiran yang dalam. Danau di matanya yang biasanya tenang kini beriak. Gelombang-gelombangnya menghempas tajam ke pinggir danau dan berbalik arah ketika menghantam bebatuan. Biru meneduhkan kini berganti dengan gersang. Lama aku larut dalam mata itu. Tidak ada lagi bayangan Mak di sana. Biasanya di kala rindu, aku bisa menangkap sebias senyuman Mak di mata itu.
     Da,” ia mengguncang-guncang bahuku.
    “Mak di mana...
    Berhentilah berhalusinasi. Sesungguhnya Mak kan sudah di sana. Lebih abadi dibanding alam fana yang kita tempati sekarang!”
     Tapi, Sri.”
    Sri menatapku heran, tapi kemudian mencoba merangkulku. Tubuhku didekapnya erat. Lama. Sampai detak-detak jantungnya menggetarkan dadaku. Air danau di matanya meleleh bagai lahar panas gunung Marapi menelusuri kali yang mengalir di kakinya. Hangatnya sampai terasa di pu-nggungku. Perempuan ini menangis. Dia menangis!  Pelukan yang seakan tidak mau dia lepas.
     “Da,  aku bawa anak-anak.” Masih dalam dekapannya.
     “Maksudmu?”
     “Kami akan ke rumah ibu.” Bulir-bulir air menderas dari bola matanya.
     “Sri ... .” Itukah makna tangisnya? Sisanya mulutku tercekat. Aku berteriak, namun suara tidak pernah muncul dari mulutku. Air mataku meleleh.
     Sepagi itu dengan bungkusan kain seadanya, Sri meninggalkan rumah dengan membawa Millien dan Cinta menuju arah utara. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena tiba-tiba saja semua anggota badanku berasa menjadi kaku: bibirku kaku, lidahku kaku, tanganku kaku, kakiku kaku. Aku benar-benar tidak bisa melakukan sesuatu untuk mencegah kepergian istri dan anak-anakku. Sekelebat kilatan mata Millien dan Cinta memandang tak mengerti ke arahku. Selanjutnya, mereka benar-benar meninggalkanku  di pagi dingin yang membekukan ini.
   
                                                                                                          Ujung Padang-Kambang , November, 2010          
)* penyakit stroke