Senyum Mak Ina
Oleh Afrizal
Mak Ina, begitulah orang-orang
memanggilnya. Orangnya pendiam; tak banyak cakap. Lebih banyak mengandalkan
gerak atau gesture tubuh kalau bicara. Gerak tangan, kepala, mata, atau malah
lebih banyak tersenyum untuk merespon lawan bicaranya. Mengatakan iya dengan senyum, tidak dengan
senyum. Apa-apa persoalan dihadapi dengan senyum. Kami anak-anaknya tentu saja sudah sangat terbiasa
dengan hal ini. Kami fasih menerjemahkannya. Senyum adalah bahasa Mak, bahasa kalbu Mak. Kalbu seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya.
Selain cara berkomunikasi, ada sisi
lain yang menonjol dari Mak, yakni perhatiannya kepada anak-anak. Apa saja tentang anaknya, tidak secuil pun terlewatkan oleh beliau.
Termasuk urusan jodoh, misalnya. Dari sekian anaknya Mak, aku sangat terlambat
memikirkan hal itu. Mak sangat meri-saukannya. Sehingga suatu hari dengan gaya khasnya Mak menyindirku, kapan Mak bisa bertemu dengan perempuan yang pernah kauceritakan itu? Aku kaget. Ternyata Mak masih ingat tentang perempuan yang tanpa sengaja
kuceritakan kepada beliau beberapa waktu yang lalu. Perempuan yang mampu
membuat detak jantungku berdebar lebih kencang. Aku hanya tersenyum
menang-gapinya. Sehingga suatu hari aku membawa
seorang gadis yang matanya paling hidup di antara gadis-gadis yang kukenal. Di danau keteduhan matanya tak kita temukan riak. Kita bisa
menyelam dan be-renang di matanya. Di mana kautemukan gadis itu, begitu kira-kira bahasa kalbu
yang terpancar dari mata Mak yang sedikit coklat. Aku tersenyum malu. Gadis yang kubawa itu adalah Sri atau Sri Sumirah lengkapnya, yang kelak menjadi ibu dari anak-anakku. Seperti biasa Mak tidak akan berko-mentar. Kita cukup paham bahwa mak bahagia. Kebahagiaan terpancar dari senyum yang tak pernah lepas dari bibir Mak.
Perjumpaan kami malam ini membuat segala rinduku buyar.
Masih sesungging senyumannya yang khas, beliau memaknai aku anaknya dengan
sifat-sifat keibuannya. Beliau senang. Gurat tua di wajah-nya memperkatakan begitu.
Tak sepatah katapun memang keluar dari
bibir Mak. Aku hati-hati menjaga
perasaan Mak. Aku tidak ingin kualitas
pertemuan ini menjadi rusak gara-gara tidak bisa menahan emosi dan perasaan
yang tidak begitu mendasar. Benar, Mak itu sehat, Mak itu tidak sakit. Penyakit tanpa indo)* yang pernah menyerang
beliau tidak terlihat sama sekali.
Panyakit tanpa indo memang sangat
umum terjadi di daerah kami. Penyakit ini umumnya menyerang orang-orang
yang sudah berusia paruh baya. Masyarakat kami menyebutnya
sebagai penyakit yang aneh dan misterius. Datang tiba-tiba dan merenggut nyawa.
Sebagian masyarakat mengatakan penyakit itu adalah sebuah kutukan.
Aku memang sangat mengkhawatirkan keadaan Mak. Syukurlah Mak sepertinya tidak apa-apa. Buktinya malam ini Mak terlihat segar dengan daster coklat kembang-kembang
putih yang dikena-kannya. Mak itu punya karakter yang kuat, di situlah letak kecantikan
beliau. Sebagaimana ibu-ibu di
kampung kami, sulitnya kehidupan telah mengasah Mak semenjak kecil. Terbiasa sendiri, terbiasa mandiri. Makanya kalau pun
benar Mak masih sakit beliau tidak
akan pernah memperlihatkannya kepada orang lain, apalagi kepada anak-anaknya.
Aku masih ingat, mungkin masih sepuluh tahunan-lah usiaku ketika itu. Rata-rata kami sekeluarga hanya bisa makan satu kali sehari.
Perut kami hari-harinya kosong keroncongan. Untuk mengisi perut yang kosong
kami disuruh minum yang banyak. Atau, disuruh mencari pisang,
singkong, atau buah apa saja yang ada di kebun di belakang rumah. Makan buah,
singkong atau pisang juga membuat perut tetap kencang seperti
anak-anak lain yang kenyang oleh nasi. Kami tidak cengeng. Alhamdulillah kita masih bisa makan, kata Mak, walaupun cuma sekali sehari. Hal seperti itu sangat
sering dialami oleh mak sewaktu masih
kecil. Kepada anak-anaknya mak sering menceritakan tentang kepahitan hidupnya.
Tidak hanya keluarga Mak, hampir rata-rata di kampung kami kehidupannya sulit. Fisik boleh
keropos, kata Mak, tapi kita harus punya batin yang kuat.
“Kasihan kalian. Mak bertekad tidak ingin
menyengsarakan kalian. Lihatlah ayah kalian. Kaki sudah menjadi kepala, kepala
sudah menjadi kaki demi sesuap nasi. Ayahmu terlihat lebih tua daripada usianya
yang sesungguhnya. Tapi kalian tidak usah khawatir. Cukuplah jadi anak-anak
yang baik, kami sudah senang.
Mak benar. Ayah adalah seorang pekerja
keras. Bahkan demi kami ayah tak hirau akan kesehatan-nya sendiri.
Kami anak-anaknya bertekad untuk maju. Bagaimana pun kehidupan harus
diubah ke arah yang lebih baik. Kami belajar dengan giat. Memang sayang, di
saat aku belum menyelesaikan pendidikanku, ayah dipanggil menghadap Yang Kuasa.
Mak tinggal sendiri. Jangankan untuk menang-gung hidup kami sekeluarga, untuk menghidupi dirinya
sendiri saja jujur rasanya mak tidak sanggup. Begitulah Mak. Dengan tulang-tulangnya yang lemah mak
mengais-ngais rezeki. Sehingga tubuhnya yang lemah itu makin tergerus. Penyakit
tanpa indo pun datang. Habislah semua. Beruntung di saat yang sama anak
tertua beliau, uda Yon, mendapat pekerjaan yang layak. Beban Mak sedikit berku-rang.
Mak tersenyum. Kemudian melepaskan
genggaman tangannya pada tangan kananku. Menepuk pundakku berkali-kali, dan
berlalu menuju kamar tengah. Langkah-langkahnya yang berat membuat miris hati
memandang. Tak dipungkiri kerentaan mak sudah lama datang. Kadang apa yang kita
ucap-kan tak berbalas sewajarnya.
Daya kerja otak dan daya ingat beliau sudah sangat rendah. Jangankan nama, saat
sekarang beliau sudah susah membedakan aku anaknya yang ke berapa. Pelan-pelan,
satu-satu, Tuhan sudah mulai mengambilnya. Menurut uni Nela, hal ini terjadi
setelah tanpa indo itu datang untuk ketiga kalinya. Seluruh
syaraf beliau sebelah kiri melemah fungsinya. Mulai dari kepala sampai ujung
kaki. Sudah pasti sangat mengganggu kerja jantung yang notabene berada pada
rongga dada sebelah kiri. Aku takut kalau alat yang paling vital pada tubuh
manusia itu berhenti mendadak. Dan, kematian itu sudah sulit untuk dicegah.
Terus terang aku belum siap menerima kenyataan itu. Aku belum melakukan apa-apa
untuk mak.
Mak mucul kembali. Kemudian menggamit
tangan kananku dan mengajakku melangkah. Aku ikuti saja apa maunya mak. Sri, istriku, yang berdiri di sampingku
hanya bengong dan melongo saja meli-hat adegan itu. Aku pikir untuk apa, rupanya mak ingin mengajak aku untuk
mengitari luar dan dalam rumah. Tanpa kata beliau menunjuk bagian-bagian rumah
yang sudah mulai merapuh. Mulai dari din-ding rumah. Meranti itu sebagian sudah bisa dilubangi dengan jari telunjuk.
Padahal itu adalah kayu kualitas terbaik
saat rumah itu dibangun oleh ayah. Atap rumah juga begitu. Di bagian tertentu kalau kita melihat ke atas dari
dalam rumah, kerlap-kerlip bintang di langit pun bisa kita nikmati melalui
bolongan atap rumbio yang sudah tua itu. Bahkan serpihan atap-atap lapuk
itu sebagian berceceran pada lantai rumah.
Satu per satu kamar kami datangi. Kami
lama terhenti pada kamar belakang. Di sana terdapat dipan sederhana. Tikar pandan masih tergelar di atasnya. Memoriku segera mengingatkan. Bukankah di kamar
ini aku biasa merebahkan diri beristirahat kala gelap malam itu datang? Bahkan
di kamar itulah darah tertumpah saat kehadiranku keluar dari rahim Mak untuk menghirup udara kehidupan ini.
Aku mencoba memasuki kamar itu lebih jauh.
Mak membiarkanku mengenali benda-benda yang terdapat di sana. Luar biasa!
Lemari kecil itu, meja belajar, radio butut kesayanganku, masih ada. Tidak ada
yang hilang atau berpindah tempat. Mak tersenyum ke arahku. Cuma karena sudah
lama tidak ditempati, debu sudah menjarah di mana-mana. Dalam hati aku berucap,
tenang saja Mak, aku janji rumah tua peninggalan
ayah ini akan aku renovasi tanpa harus membuang kenangan atau memori sejarah keluarga besar kita.
Sekali lagi mak tersenyum. Seakan-akan mak memang telah membaca suara batinku.
Aku terhenti agak lama pada radio butut
yang ada di atas meja belajar. Sungguh konyol ketika itu. Gara-gara radio jelek
ini aku sempat punya cita-cita untuk menjadi seorang penyiar, pembaca berita.
Akan kubuktikan kepada orang-orang kampung bahwa aku juga bisa terkenal lewat
suaraku yang ngebas. Sayang cita-cita itu buyar di saat kuncup-kuncup
usia remajaku mulai mekar. Aku didoktrin menjadi tentara oleh kakak tertuaku
uda Yon. Tapi itu juga akhirnya kandas. Sudah berapa lama radio kesayangan itu
tidak aku sentuh, aku sendiri sudah lupa. Radio itu sudah rusak dibanting oleh
keme-nakanku, anak uni Nela. Inilah
kali pertamanya lagi kusentuh. Debunya menempel sudah layaknya sebagai daki
yang lengket pada kulit manusia. Kusentuh dan kuelus radio itu dengan lembut,
seperti aku memperlakukan benda yang sangat istimewa dalam hidupku.
* *
*
“Khuk, huuk khuk ... “
Suara itu membuatku kaget. Mencari-cari
sesuatu kiri-kanan. Tidak ada Mak, hanya Sri. Hanya Sri! Itu suara batuk istriku? Tidak jauh dari tidurku, perempuan itu dengan berat menahan kantuknya.
Lihatlah matanya sudah mulai celong. Danau di matanya kemerah-merahan.
“Kamu belum tidur?”
Sri menggeleng lemah. Wajahnya kusam dan pucat.
Jerawat sudah mulai bermunculan di sana sini pada wajahnya. Tatapan matanya
agak redup.
“Sampai kapan kita harus seperti
ini? Larut dengan kesedihan yang
panjang.” Sudah tidak ter-hitung kalimat-kalimat seperti itu terlontar dari
bibirnya belakangan ini. “ Masa berkabung itu sudah harus diakhiri,” lanjutnya.
“Lihatlah anak-anak kita. Kau telah
menyita semua waktu dan perhatianku. Mereka terbiar kini!”
Perempuan itu menatapku dengan kekhawatiran yang
dalam. Danau di matanya yang
biasanya tenang kini beriak. Gelombang-gelombangnya menghempas tajam ke pinggir danau dan berbalik arah
ketika menghantam bebatuan. Biru meneduhkan kini berganti dengan gersang. Lama aku larut dalam mata itu. Tidak ada lagi bayangan Mak di sana. Biasanya di kala rindu, aku bisa menangkap
sebias senyuman Mak di mata itu.
“Da,” ia mengguncang-guncang bahuku.
“Mak di mana...”
“Berhentilah berhalusinasi.
Sesungguhnya Mak kan sudah di sana. Lebih abadi dibanding alam fana yang kita
tempati sekarang!”
“Tapi, Sri.”
Sri menatapku heran, tapi kemudian mencoba merangkulku. Tubuhku
didekapnya erat. Lama. Sampai detak-detak jantungnya menggetarkan dadaku. Air
danau di matanya meleleh bagai lahar panas gunung
Marapi menelusuri kali yang mengalir di kakinya. Hangatnya sampai terasa di pu-nggungku. Perempuan ini menangis. Dia menangis! Pelukan yang
seakan tidak mau dia lepas.
“Da,
aku bawa anak-anak.” Masih dalam dekapannya.
“Maksudmu?”
“Kami
akan ke rumah ibu.” Bulir-bulir air menderas dari bola matanya.
“Sri ... .” Itukah makna tangisnya?
Sisanya mulutku tercekat. Aku berteriak, namun suara tidak pernah muncul dari
mulutku. Air mataku meleleh.
Sepagi itu dengan bungkusan kain seadanya,
Sri meninggalkan rumah dengan membawa Millien dan Cinta menuju arah utara. Aku
tidak bisa berbuat apa-apa karena tiba-tiba saja semua anggota badanku berasa menjadi
kaku: bibirku kaku, lidahku kaku, tanganku kaku, kakiku kaku. Aku benar-benar
tidak bisa melakukan sesuatu untuk mencegah kepergian istri dan anak-anakku. Sekelebat
kilatan mata Millien dan Cinta memandang tak mengerti ke arahku. Selanjutnya, mereka
benar-benar meninggalkanku di pagi
dingin yang membekukan ini.
Ujung Padang-Kambang , November, 2010
)* penyakit stroke